
Memasuki awal 2026, dunia menghadapi kombinasi tantangan yang saling terkait dan semakin kompleks. Berdasarkan Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum, berikut adalah beberapa permasalahan utama dunia saat ini:
1. Ketegangan Geopolitik & Konflik Bersenjata
Dunia sedang berada dalam fase konfrontasi politik yang tajam. Krisis utama meliputi:
- Konfrontasi Geoekonomi: Menjadi risiko nomor satu di tahun 2026 karena negara-negara besar saling berebut pengaruh melalui kebijakan perdagangan dan sanksi.
- Konflik Antarnegara: Perang yang terus berlanjut di Eropa Timur dan Timur Tengah, serta potensi ketegangan di Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan, mengancam stabilitas keamanan global.
- Krisis Kedaulatan: Munculnya titik panas baru, termasuk krisis politik di Venezuela dan sengketa sumber daya seperti air dan mineral kritis.
2. Tantangan Ekonomi & Utang
Ketidakpastian ekonomi menjadi perhatian besar bagi banyak negara:
- Bom Waktu Utang: Banyak negara menghadapi beban utang jatuh tempo yang besar pada 2026, termasuk Indonesia yang memiliki kewajiban signifikan, yang dapat menekan anggaran negara.
- Perambatan Pertumbuhan: IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat ke angka 3,1% di tahun 2026.
- Fragmentasi Perdagangan: Proteksionisme yang meningkat mempersulit kerja sama ekonomi multilateral.
3. Lingkungan & Krisis Iklim
Masalah lingkungan tetap menjadi ancaman jangka panjang yang paling parah:
- Cuaca Ekstrem: Badai, banjir, dan kekeringan yang semakin intens akibat perubahan iklim merusak ketahanan pangan global.
- Kelangkaan Sumber Daya: Krisis air bersih kini menjadi isu keamanan serius, terutama di wilayah yang tidak memiliki perjanjian pembagian air yang mengikat.
4. Teknologi & Disinformasi
Perkembangan teknologi membawa risiko baru yang sulit dikendalikan:
- Misinformasi & Disinformasi: Penyebaran berita bohong yang diperkuat oleh AI dianggap sebagai risiko sosial tertinggi, yang memicu polarisasi masyarakat dan menurunkan kepercayaan pada lembaga pemerintah.
- Risiko AI: Kekhawatiran terhadap penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam pengambilan keputusan militer dan dampaknya terhadap pasar tenaga kerja.
5. Krisis Sosial & Polarisasi
Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar dan polarisasi politik membuat masyarakat lebih rentan terhadap perpecahan internal, yang mempersulit pengambilan kebijakan kolektif untuk menyelesaikan masalah global lainnya.
dampak masalah ekonomi spesifik terhadap Indonesia di tahun 2026
Fokus pada dua isu besar yang dihadapi Indonesia saat ini:
1. Dampak Ekonomi: Beban Utang & Pertumbuhan
Tahun 2026 menjadi titik krusial bagi keuangan negara Indonesia karena adanya lonjakan kewajiban finansial:
- Utang Jatuh Tempo: Indonesia menghadapi rekor utang jatuh tempo tertinggi dalam sejarah sebesar Rp833,96 triliun pada 2026. Hal ini dapat menyedot porsi signifikan dari belanja negara, terutama dengan beban bunga yang diperkirakan mendekati Rp600 triliun.
- Proyeksi Pertumbuhan: Di tengah beban utang, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di rentang 4,9%–5,7%.
- Kemandirian Energi: Sebagai strategi menghadapi pelemahan global, Indonesia menargetkan berhenti mengimpor solar mulai 2026 untuk memperkuat kedaulatan energi.
2. Solusi Krisis Iklim: Menuju Net Zero
Indonesia mempercepat langkah transisi hijau untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem terhadap pangan:
- Transisi Energi: Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas listrik sebesar 75 GW dalam 10 tahun ke depan, dengan 61% berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT) berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
- Target Emisi: Indonesia berkomitmen mengurangi emisi hingga 1,2 – 1,5 gigaton CO2e pada tahun 2035 melalui sektor kehutanan dan industri hijau.
- Upaya Adaptasi: Fokus pada rehabilitasi mangrove dan pengembangan pertanian berkelanjutan guna menekan penurunan produktivitas pangan akibat pergeseran musim.
sektor-sektor yang paling terdampak oleh kebijakan ekonomi rendah karbon
Dekarbonisasi industri di Indonesia bukan sekadar tren lingkungan, melainkan strategi untuk menjaga daya saing di pasar global. Berdasarkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri dari Kementerian Perindustrian, berikut adalah sektor-sektor yang paling terdampak oleh kebijakan ekonomi rendah karbon:
1. Sektor Industri dengan Emisi Tinggi (Hard-to-Abate)
Sektor ini menjadi fokus utama kebijakan pasar karbon wajib (mandatory carbon market) yang mulai dikaji serius untuk diterapkan:
- Industri Semen: Salah satu penyumbang emisi terbesar dari proses kalsinasi dan penggunaan energi panas. Sektor ini memiliki pekerjaan rumah (PR) besar untuk beralih ke bahan bakar alternatif dan teknologi efisiensi tinggi.
- Industri Baja & Besi: Terdampak langsung oleh kebijakan internasional seperti CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism) dari Uni Eropa yang berlaku penuh mulai 2026. Pengusaha baja lokal kini gencar berinvestasi pada teknologi hijau agar produk ekspornya tidak terkena tarif pajak karbon tinggi di luar negeri.
- Industri Pupuk & Kimia: Sangat bergantung pada gas alam dan proses kimia yang intensif karbon (IPPU), yang menyumbang sekitar 38% emisi manufaktur.
2. Sektor Energi & Ketenagalistrikan
Sebagai tulang punggung industri, sektor ini menghadapi tekanan ganda:
- Pajak Karbon: Pemerintah merencanakan pemberlakuan pajak karbon pada 2026 dengan skema cap and tax (pajak atas emisi yang melebihi batas).
- Pembangkit Listrik Batubara: Harus bersiap dengan penutupan dini pembangkit tua atau investasi pada teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sesuai Permen ESDM No.10/2025.
3. Sektor Manufaktur & Tekstil
- Tekstil dan Produk Tekstil (TPT): Sektor ini mulai berhitung karena penggunaan energi yang intensif. Pajak karbon dikhawatirkan dapat meningkatkan biaya produksi di tengah persaingan global yang ketat.
Peluang di Balik Tantangan
Meskipun ada beban biaya tambahan, transisi ini dipandang sebagai peluang untuk:
- Efisiensi Operasional: Mengurangi konsumsi energi melalui audit dan teknologi baru dapat menurunkan biaya jangka panjang.
- Akses Pembiayaan Hijau: Industri yang berkomitmen pada dekarbonisasi lebih mudah mendapatkan insentif fiskal dan pendanaan dari lembaga internasional.
aapakah aksi nyata yang bisa kita lakukan?
Sebagai individu, langkah kita mungkin terasa kecil, namun jika dilakukan secara kolektif akan menekan industri untuk berubah lebih cepat. Berikut adalah aksi nyata yang bisa kita lakukan:
1. Dari Sisi Ekonomi & Keuangan
- Investasi di Instrumen Hijau: Alihkan sebagian tabungan ke Sukuk Tabungan (ST) atau Green Bond yang diterbitkan pemerintah. Dana ini digunakan langsung untuk membiayai proyek ramah lingkungan di Indonesia.
- Pilih Produk Bersertifikat: Mulailah memprioritaskan produk dari perusahaan yang memiliki sertifikat Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian. Ini memberikan sinyal pasar bahwa konsumen peduli pada keberlanjutan.
2. Efisiensi Energi di Level Rumah Tangga
- Audit Mandiri Penggunaan Listrik: Kurangi beban puncak listrik di rumah. Semakin sedikit listrik (yang mayoritas masih dari batubara) yang kita pakai, semakin rendah emisi yang kita hasilkan.
- Transisi ke Kendaraan Listrik/Umum: Jika memungkinkan, pertimbangkan insentif motor listrik yang disediakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada BBM subsidi yang membebani APBN.
3. Adaptasi Gaya Hidup & Konsumsi
- Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle): Kurangi penggunaan plastik sekali pakai yang berbasis minyak bumi. Gunakan platform seperti Waste4Change untuk memastikan sampah rumah tangga Anda didaur ulang secara bertanggung jawab dan tidak berakhir di TPA menghasilkan gas metana.
- Kurangi Food Loss & Waste: Indonesia adalah salah satu penyumbang sampah makanan terbesar. Mengurangi sisa makanan secara langsung membantu menekan emisi gas rumah kaca dari sektor limbah.
4. Literasi & Advokasi Digital
- Lawan Disinformasi: Di tengah tingginya risiko hoaks (risiko nomor satu global 2026), selalu lakukan cek fakta melalui situs seperti TurnBackHoax.id sebelum menyebarkan informasi terkait isu sensitif (politik/ekonomi).
- Suarakan Isu Lingkungan: Gunakan media sosial untuk mendukung kebijakan publik yang pro-lingkungan, seperti tuntutan percepatan pensiun dini PLTU batubara.
Semoga Artikel ini bermanfaat buat anda. Jangan lupa share ya


