
Hai sobat Insan Cendekia, Pemuda, tulang punggung umat, bangsa dan Negara. Ialah generasi yang akan meneruskan kepemimpinan bangsa. Sering ada ungkapan, “Kalau mau melihat bagaimana suatu bangsa 20 tahun lagi, lihat bagaimana pemudanya hari ini”. Kalau berhasil mendidik pemuda hari ini, maka masa depan suatu bangsa pun akan cerah. Sebaliknya, bila pemuda tidak terdidik dengan baik, siap-siaplah terlibas oleh arus deras dari luar.
Pemuda itu ada dan pernah berkiprah hebat dalam hidupnya , salah satunya adalah KH. Ahmad Dahlan , Pemuda Hebat Pendiri Organisasi Islam terbesar di Dunia yaitu Muhammadiyah. Yuk kita ikuti kisahnya ;
Kehidupan masa muda KH Ahmad Dahlan, yang lahir dengan nama Muhammad Darwis, dipenuhi dengan pendidikan agama yang disiplin dan perjalanan intelektual yang melintasi benua. Berikut perjalanan hidup KH Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang disusun berdasarkan fase usia, mulai dari kelahiran hingga wafatnya
KH Ahmad Dahlan dari Lahir hingga Wafatnya
1. Masa Kecil (0–15 Tahun): Pembentukan Karakter
- 1868 (Lahir): Lahir pada 1 Agustus di Kauman, Yogyakarta, dengan nama Muhammad Darwis. Beliau adalah putra keempat dari KH Abu Bakar, seorang khatib di Masjid Besar Kesultanan.
- Pendidikan Awal: Sejak kecil, ia dididik langsung oleh ayahnya dalam menghafal Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama. Ia juga dikenal mahir dalam membuat kerajinan tangan dan mainan seperti layang-layang.
2. Masa Muda & Perjalanan ke Mekkah (15–21 Tahun)
- 1883 (Usia 15): Berangkat ke Mekkah untuk pertama kalinya untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu.
- 1883–1888 (Masa Belajar): Menetap selama 5 tahun di Mekkah. Di sini, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan atas saran gurunya, Sayyid Bakri Syatha.
- 1888 (Usia 20): Kembali ke tanah air dan mulai memperkenalkan pemikiran-pemikiran baru yang ia dapatkan di Timur Tengah.
3. Masa Pernikahan & Perjuangan Awal (21–44 Tahun)
- 1889 (Usia 21): Menikah dengan Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan), putri dari KH Muhammad Fadhil. Tak lama kemudian, ia kembali ke Mekkah untuk kunjungan singkat dan belajar lebih dalam.
- 1890-an – 1900-an: Aktif berdagang batik dan mulai mengajar. Ia sempat mengundang kontroversi di Kauman saat berusaha meluruskan arah kiblat Masjid Agung Yogyakarta agar sesuai dengan perhitungan astronomi.
- 1903 (Usia 35): Kembali ke Mekkah untuk kedua kalinya selama 2 tahun. Ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, yang juga merupakan guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
4. Masa Kematangan & Pendirian Muhammadiyah (44–54 Tahun)
- 1912 (Usia 44): Pada 18 November 1912, beliau resmi mendirikan Muhammadiyah di Kauman. Fokus utamanya adalah pemurnian ajaran Islam dan modernisasi pendidikan.
- 1912–1923: Memimpin Muhammadiyah dan mengembangkan berbagai sekolah, panti asuhan, dan rumah sakit. Beliau juga aktif berorganisasi di Boedi Oetomo dan Sarekat Islam untuk memperluas jangkauan dakwahnya.
5. Akhir Hayat (54 Tahun)
- 1923 (Wafat): KH Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923 di Yogyakarta dalam usia 54 tahun karena kondisi kesehatan yang menurun akibat kesibukannya berdakwah.
- Makam: Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Karangkajen, Yogyakarta. Atas jasanya, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 657 Tahun 1961.
Prinsip Hidup KH Ahmad Dahlan
Prinsip hidup KH Ahmad Dahlan berpusat pada keseimbangan antara kesalehan ritual dan tindakan nyata untuk kemanusiaan. Beliau bukan tipe ulama yang hanya duduk di atas sajadah, melainkan ulama yang turun ke jalan.
Berikut adalah prinsip-prinsip utama beliau:
1. “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah”
Ini adalah prinsip paling populer yang menekankan pada keikhlasan. Beliau mengajarkan pengikutnya untuk memberi kontribusi (harta, waktu, tenaga) kepada organisasi demi umat, bukan menjadikan organisasi sebagai tempat mencari keuntungan pribadi atau mata pencaharian.
2. Teologi Al-Ma’un (Keseimbangan Ilmu dan Amal)
Beliau meyakini bahwa menghafal ayat Al-Qur’an tidak ada gunanya jika tidak dipraktikkan.
- Kisah Ikonik: Beliau mengajarkan Surat Al-Ma’un kepada muridnya berulang-ulang selama berbulan-bulan. Saat muridnya protes karena sudah hafal, beliau menjawab: “Kalian belum mengerti kalau belum mempraktikkannya.”
- Aksi Nyata: Prinsip inilah yang melahirkan rumah sakit (PKU), rumah yatim, dan sekolah-sekolah pertama di Indonesia untuk kaum dhuafa.
3. Berpikir Modern dan Terbuka (Ijtihad)
Beliau memiliki prinsip untuk selalu progresif. Beliau tidak ragu menggunakan alat-alat “Barat” seperti meja, kursi, dan papan tulis di sekolahnya, meskipun saat itu dianggap menyerupai penjajah (kafir). Baginya, kebenaran bisa datang dari mana saja asalkan bermanfaat bagi umat.
4. Islam sebagai Agama Tindakan
KH Ahmad Dahlan sangat menekankan bahwa Islam adalah agama yang harus tampak hasilnya di dunia. Beliau sering berkata: “Kasihanilah orang yang miskin, berilah makan, dan didiklah mereka agar tidak tertinggal.” Baginya, iman yang kuat harus berbanding lurus dengan kepedulian sosial yang tinggi.
5. Keberanian Melawan Arus
Prinsip beliau adalah berani melakukan perubahan demi kebenaran, meskipun harus menghadapi kecaman. Ini terbukti saat beliau berani meluruskan arah kiblat di Masjid Gedhe Kauman yang sempat membuatnya dimusuhi oleh ulama-ulama tradisional saat itu.
Kisah hidup beliau yang mengamalkan prinsip-prinsip ini dapat dibaca lebih mendalam melalui publikasi resmi di portal Muhammadiyah.or.id
hubungan persahabatan antara KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari
Persahabatan antara KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari adalah kisah ikonik dua matahari kembar yang menyinari keislaman di Indonesia. Meskipun nantinya memimpin dua organisasi besar yang berbeda (Muhammadiyah dan NU), mereka berasal dari akar ilmu yang sama.
Berikut adalah poin-poin hubungan persahabatan mereka:
1. Satu Kamar di Mekkah
Sekitar tahun 1903, saat keduanya memperdalam ilmu di Mekkah, mereka berguru kepada ulama besar asal Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Menurut catatan sejarah, mereka pernah tinggal dalam satu kamar (pemondokan) yang sama, sehingga hubungan mereka sangat akrab layaknya kakak dan adik.
2. Panggilan Sayang “Kakak” dan “Adik”
Karena Ahmad Dahlan (usia 35 saat itu) lebih tua sekitar tiga tahun dari Hasyim Asy’ari (usia 32), terdapat panggilan penghormatan di antara mereka:
- KH Hasyim Asy’ari memanggil Ahmad Dahlan dengan sebutan “Mas” atau “Kakak”.
- KH Ahmad Dahlan memanggil Hasyim Asy’ari dengan sebutan “Adi” atau “Adik”.
3. Saling Bertukar Kitab
Keduanya dikenal sebagai kutu buku. Di Mekkah, mereka sering berdiskusi dan saling meminjamkan kitab. Salah satu kitab yang mereka pelajari bersama adalah Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh, meskipun nantinya mereka memiliki penekanan yang berbeda dalam menafsirkan metode pembaruan Islam.
4. Perbedaan Jalur, Satu Tujuan
Sepulang dari Mekkah, mereka mengambil jalur dakwah yang berbeda sesuai dengan kondisi masyarakat yang mereka hadapi:
- KH Ahmad Dahlan bergerak di wilayah perkotaan (Yogyakarta) dengan fokus pada modernisasi sekolah dan rumah sakit.
- KH Hasyim Asy’ari bergerak di wilayah pedesaan (Jombang) dengan fokus pada pelestarian tradisi pesantren dan penguatan madzhab.
5. Sikap Saling Menghormati
Meskipun pengikut kedua organisasi ini terkadang berselisih paham mengenai masalah furu’iyah (cabang agama seperti jumlah rakaat tarawih atau qunut), kedua tokoh ini selalu menunjukkan sikap tabayyun. Ada kisah bahwa ketika KH Ahmad Dahlan berkunjung ke pesantren KH Hasyim Asy’ari, beliau tidak mengimami shalat dengan cara Muhammadiyah demi menghormati sang sahabat, begitupun sebaliknya.
dialog atau perdebatan intelektual yang pernah terjadi di antara
Dialog intelektual antara KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar perdebatan kusir, melainkan pertukaran ide yang mendalam tentang bagaimana menyelamatkan umat Islam di Indonesia dari keterbelakangan dan penjajahan.
Berikut adalah beberapa titik perbedaan dan dialog intelektual mereka:
1. Ijtihad vs. Taklid (Mazhab)
- KH Ahmad Dahlan: Berpandangan bahwa umat Islam harus kembali langsung kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah melalui pintu ijtihad yang terbuka luas. Beliau cenderung tidak ingin terikat kaku pada satu mazhab tertentu guna merespons tantangan modernitas.
- KH Hasyim Asy’ari: Berpendapat bahwa pintu ijtihad bagi orang awam sulit dicapai dan menekankan pentingnya bermazhab (terutama Mazhab Syafi’i). Beliau menulis kitab Risalah fi Ta’akkud al-Akhdz bi al-Madzahib al-Arba’ah untuk menegaskan bahwa memahami Islam harus melalui sanad keilmuan para imam madzhab agar tidak salah arah.
2. Purifikasi vs. Akulturasi Tradisi
- KH Ahmad Dahlan: Fokus pada pemurnian (purifikasi) ajaran Islam dari unsur TBC (Tahayyul, Bid’ah, dan Khurafat). Beliau menganggap praktik seperti tahlilan yang bercampur tradisi lokal tidak memiliki dasar kuat dalam dalil.
- KH Hasyim Asy’ari: Mengambil pendekatan akulturasi melalui kaidah “al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Beliau melihat tradisi lokal dapat diberi warna keislaman sebagai sarana dakwah yang efektif.
3. Model Modernisasi Pendidikan
- KH Ahmad Dahlan: Melakukan pembaruan radikal dengan mengadopsi sistem klasikal (kelas), meja, kursi, dan memasukkan pelajaran umum ke dalam madrasah.
- KH Hasyim Asy’ari: Tetap mempertahankan sistem pesantren dengan metode sorogan dan bandongan sebagai benteng moralitas dan tradisi Islam yang asli Indonesia.
4. Sikap Saling Memuji di Tengah Perbedaan
Meskipun memiliki perbedaan tajam dalam masalah furu’iyah (cabang agama), keduanya tetap saling memuji. KH Hasyim Asy’ari bahkan mewajibkan santrinya untuk menghormati KH Ahmad Dahlan sebagai sosok yang cerdas dan berani melakukan pembaruan di jantung Kesultanan Yogyakarta.
Dialog ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan bukanlah pemecah belah, melainkan kekayaan strategi dakwah bagi bangsa Indonesia
bagaimana penerapan Surat Al-Ma’un hingga Muhammadiyah menjadi gerakan sosial terbesar di Indonesia?
Penerapan Surat Al-Ma’un oleh KH Ahmad Dahlan adalah titik balik yang mengubah cara beragama di Indonesia—dari sekadar ritual menjadi gerakan sosial nyata.
Berikut adalah kronologi dan cara unik beliau menerapkannya:
1. Metode “Repetisi” yang Mengusik
Selama berbulan-bulan, KH Ahmad Dahlan hanya mengajarkan Surat Al-Ma’un kepada para santrinya. Ketika santrinya bertanya mengapa tidak ganti surat padahal mereka sudah hafal, beliau bertanya balik: “Apakah kalian sudah mengamalkannya?”
2. Tantangan Mencari Orang Miskin
Beliau memerintahkan para santrinya untuk turun ke jalan, pasar, dan gang-gang sempit untuk mencari anak yatim dan orang miskin. Beliau meminta para santri membawa mereka ke kelas, memberi mereka makan, sabun untuk mandi, dan pakaian yang layak.
- Filosofi: Beliau ingin menunjukkan bahwa menghafal ayat tentang menyantuni anak yatim tidak bernilai jika tidak ada anak yatim yang kenyang karena hafalan tersebut.
3. Lahirnya Lembaga PKU (Penyantun Kesengsaraan Umum)
Aksi “mempraktikkan ayat” ini berkembang menjadi institusi formal.
- Kesehatan: Beliau mendirikan klinik untuk kaum dhuafa yang kini dikenal sebagai RS PKU Muhammadiyah.
- Sosial: Beliah membangun panti asuhan dan rumah singgah untuk menampung mereka yang terpinggirkan oleh sistem kolonial.
4. Melawan Stigma “Kafir”
Saat menerapkan Al-Ma’un dengan mendirikan sekolah dan rumah sakit modern, beliau sering dicemooh sebagai “Kiai Kafir” karena meniru sistem Belanda. Namun, prinsip beliau tetap teguh: Al-Qur’an harus menjadi solusi atas kemiskinan dan kebodohan, apa pun sarananya.
5. Hasil Nyata Hingga Kini
Gerakan yang dimulai dari satu surat ini kini telah bertransformasi menjadi jaringan amal usaha terbesar di dunia, mencakup:
- Ribuan Panti Asuhan.
- Ratusan Rumah Sakit.
- Lembaga amil zakat Lazismu yang menyalurkan bantuan ke seluruh penjuru dunia.
Semua raksasa organisasi ini berawal dari satu pertanyaan sederhana di sebuah kelas kecil di Kauman: “Sudahkah kau beri makan orang miskin hari ini?
Apakah KH Ahmad Dahlan Seorang Yang Kaya ?
KH Ahmad Dahlan memiliki status ekonomi yang berkecukupan dan mapan sebagai seorang wirausahawan, namun ia memilih hidup sederhana demi membiayai perjuangan umat.
Berikut adalah fakta mengenai kekayaan beliau:
- Pedagang Batik Sukses: Secara finansial, beliau adalah pengusaha yang mandiri. Beliau berprofesi sebagai pedagang batik yang berhasil memasarkan dagangannya hingga ke luar Yogyakarta.
- Harta untuk Dakwah: Kekayaan yang ia hasilkan tidak ditumpuk untuk kepentingan pribadi, melainkan digunakan untuk mendanai operasional Muhammadiyah di masa awal. Beliau bahkan pernah melelang seluruh perabot rumah tangganya demi membayar gaji guru-guru di sekolah yang ia dirikan.
- Wasiat Kesederhanaan: Prinsip hidupnya adalah “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun ia memiliki kemampuan untuk kaya secara pribadi, ia memilih mengalokasikan hartanya sebagai aset sosial.
- Warisan Aset Raksasa: Meskipun saat wafat ia tidak meninggalkan harta berlimpah untuk keluarga, organisasi yang ia dirikan kini memiliki estimasi aset senilai Rp400 triliun hingga Rp460 triliun dalam bentuk ribuan sekolah, universitas, dan rumah sakit di seluruh Indonesia
Bagaimana KH Ahmad Dahlan Memandang Kekayaan?
Bagi KH Ahmad Dahlan, kekayaan bukanlah tujuan akhir, melainkan alat (instrumen) untuk mencapai ridha Allah melalui pelayanan kepada kemanusiaan. Beliau memandang harta dengan perspektif yang sangat progresif pada zamannya.
Berikut adalah prinsip utama KH Ahmad Dahlan dalam memandang kekayaan:
1. Harta sebagai Pinjaman untuk Beramal
Beliau tidak merasa memiliki hartanya secara mutlak. Baginya, kekayaan adalah amanah yang harus segera dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk manfaat. Inilah mengapa beliau berani melelang perabot rumah tangganya saat sekolah Muhammadiyah kehabisan dana. Beliau berkata kepada para sahabatnya: “Harta ini milik Allah, dan saat ini Allah sedang membutuhkannya melalui anak-anak sekolah ini.”
2. Anti-Menumpuk Harta (Kritik terhadap Konsumerisme)
Beliau sangat kritis terhadap ulama atau bangsawan yang hanya menumpuk kekayaan tanpa peduli pada kemiskinan di sekitarnya. Prinsip ini diambil dari tafsir Surat At-Takathur dan Surat Al-Ma’un. Beliau percaya bahwa kekayaan yang didiamkan (tidak produktif secara sosial) adalah dosa sosial.
3. Kemandirian Ekonomi (Tangan di Atas)
Meskipun dermawan, beliau sangat menekankan etos kerja. Beliau memandang kekayaan harus diraih dengan bekerja keras (seperti menjadi pedagang batik) agar umat Islam memiliki harga diri dan tidak bergantung pada belas kasihan penjajah atau pihak lain. Beliau ingin umat Islam menjadi kelompok “tangan di atas”.
4. “Kasih Sayang” dalam Bentuk Sistem
Beliau memandang bahwa mengentaskan kemiskinan tidak cukup hanya dengan memberi sedekah recehan di pinggir jalan. Kekayaan harus dikelola secara organisatoris dan sistematis. Itulah sebabnya beliau membangun panti asuhan dan rumah sakit permanen, agar kekayaan orang-orang kaya dapat tersalurkan secara berkelanjutan untuk menolong si miskin.
5. Investasi Akhirat melalui Amal Usaha
Bagi beliau, kekayaan pribadi akan habis saat mati, namun Amal Usaha (seperti sekolah dan rumah sakit) adalah kekayaan yang sesungguhnya karena pahalanya terus mengalir. Prinsip ini tercermin dalam dokumen sejarah Muhammadiyah yang mencatat bagaimana beliau menghabiskan seluruh modal usahanya untuk membesarkan organisasi.
Singkatnya, KH Ahmad Dahlan memandang orang kaya yang ideal adalah mereka yang “tangannya kasar karena bekerja, tapi hatinya lembut karena memberi.
KH Ahmad Dahlan bisa seperti ini pasti ada support sistemnya ?
Benar sekali. KH Ahmad Dahlan tidak berdiri sendiri; beliau adalah produk dari ekosistem pendidikan dan pergaulan yang sangat kuat, baik di level lokal (Yogyakarta) maupun internasional (Mekkah).
Berikut adalah support system utama di balik kesuksesan beliau:
1. Keluarga: Akar Ulama dan Pengusaha
- Ayah (KH Abu Bakar): Sebagai Khatib Masjid Besar Kauman, ayahnya memberi akses langsung ke pusat keilmuan agama di kesultanan.
- Istri (Siti Walidah): Nyai Ahmad Dahlan bukan sekadar istri, tapi rekan perjuangan. Saat KH Ahmad Dahlan fokus pada kaum laki-laki, istrinya mendirikan Aisyiyah untuk memberdayakan perempuan. Beliau juga yang mengelola keuangan keluarga saat sang suami fokus berdakwah.
2. Guru-Guru Berpengaruh
Beliau berguru pada tokoh-tokoh besar yang memiliki spektrum pemikiran luas:
- Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Guru besar di Mekkah yang juga guru KH Hasyim Asy’ari. Beliau mengajarkan dasar hukum Islam yang kuat.
- Pemikiran Tokoh Pembaharu: Melalui literatur, beliau sangat dipengaruhi oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dari Mesir, yang mendorong umat Islam untuk maju lewat pendidikan dan rasionalitas.
- Kiai Saleh Darat: Ulama besar dari Semarang yang juga merupakan guru RA Kartini. Beliau dikenal karena kemampuannya menerjemahkan kitab ke bahasa Jawa agar mudah dipahami rakyat jelata.
3. Pergaulan Intelektual dan Organisasi
KH Ahmad Dahlan adalah sosok yang sangat terbuka dan “gaul” lintas kalangan:
- Boedi Oetomo: Beliau bergabung dengan organisasi ini untuk belajar cara mengelola organisasi modern dari para ningrat dan kaum terpelajar.
- Sarekat Islam: Melalui organisasi ini, beliau memperluas jaringan dengan tokoh pergerakan nasional seperti HOS Tjokroaminoto.
- Dokter-Dokter Belanda: Beliau berteman dengan dokter-dokter di lingkungan keraton untuk mempelajari ilmu medis modern, yang nantinya menginspirasi pendirian klinik PKU.
4. Saudagar Batik Kauman
Komunitas pedagang di Kauman memberikan dukungan pendanaan (finansial). Rekan-rekan sesama pengusaha batik inilah yang menjadi donatur awal Muhammadiyah sehingga organisasi ini bisa mandiri tanpa bantuan pemerintah kolonial.
Kombinasi antara darah ulama, mental pengusaha, dan jaringan intelektual inilah yang membentuk ketangguhan KH Ahmad Dahlan.
Daftar Referensi:
- Profil KH Ahmad Dahlan – Muhammadiyah.or.id
- Biografi Singkat Pendiri Muhammadiyah – Perpustakaan Nasional
- Nyai Ahmad Dahlan: Pendamping Perjuangan – Aisyiyah.or.id
- Silsilah Keilmuan KH Ahmad Dahlan – NU Online
- Jejak Sejarah KH Ahmad Dahlan – Kemdikbud
- Gerakan Sosial Al-Ma’un – Lazismu


