
Jika hidup berjalan sesuai rencana awal, Mayer Amschel seharusnya menghabiskan hari-harinya sebagai seorang rabi di Frankfurt. Namun sejarah memilih jalan lain. Dari sebuah perkampungan Yahudi bernama Judengasse, Mayer justru meletakkan fondasi bagi salah satu dinasti keuangan paling berpengaruh di dunia: keluarga Rothschild.
Nama Rothschild sendiri berasal dari penanda rumah keluarga mereka, sebuah papan merah yang tergantung di depan bangunan tempat leluhur Mayer tinggal. Dari simbol sederhana itulah, jaringan bisnis keluarga ini tumbuh, melampaui batas kota Frankfurt hingga menembus pusat-pusat kekuasaan Eropa.
Selama lebih dari dua abad, nama Rothschild identik dengan kekayaan dan kemakmuran. Meski saat ini tak satu pun anggota keluarganya tercatat dalam daftar miliarder Forbes, pengaruh mereka di ranah ekonomi dan politik global tetap menjadi bagian penting dari sejarah modern.
Puncak kiprah keluarga Rothschild terjadi pada abad ke-19. Melalui jaringan perbankan lintas negara, mereka meminjamkan dana besar untuk membiayai pasukan Eropa dalam perang melawan Napoleon. Di Inggris, peran mereka kembali terasa ketika pemerintah di bawah Perdana Menteri Benjamin Disraeli menggunakan dukungan finansial Rothschild untuk membeli saham bernilai jutaan dolar di Terusan Suez—langkah strategis yang mengukuhkan kepentingan Inggris di jalur perdagangan dunia.
Sejak saat itu, nama Rothschild tak hanya melekat pada dunia perbankan, tetapi juga pada persimpangan antara uang, kekuasaan, dan sejarah global.
Seiring semakin dikenalnya dinasti Rothschild oleh publik dunia, nama keluarga ini juga kerap diselimuti berbagai teori konspirasi. Jumlahnya tak terhitung, beredar lintas generasi, dan terus hidup meski berulang kali dibantah oleh sejarawan maupun lembaga independen.
Dalam dua abad terakhir, mitos-mitos seputar Rothschild muncul silih berganti—mulai dari tudingan pengendali ekonomi global hingga klaim tersembunyi tentang kekuasaan politik dunia. Narasi-narasi semacam ini kembali ramai diperbincangkan di media sosial dalam beberapa hari terakhir, menyusul wafatnya Lord Jacob Rothschild, tokoh yang kerap disebut sebagai “kepala cabang” keluarga Rothschild di Inggris, pada usia 87 tahun.
Gelombang unggahan, video, dan utas spekulatif kembali mengaitkan kematian Jacob Rothschild dengan cerita-cerita lama yang belum tentu berdasar fakta. Padahal, di balik kabut mitos dan teori konspirasi, sejarah keluarga Rothschild memiliki jejak yang dapat ditelusuri secara dokumentatif.
Pertanyaannya kemudian menjadi relevan: bagaimana sebenarnya asal-usul dinasti Rothschild, dan seberapa besar kekuatan serta pengaruh mereka dalam dunia modern—di luar cerita-cerita yang kerap dilebih-lebihkan?
Dari permukiman kumuh ke istana

Mayer Amschel Rothschild lahir pada 1744 dari keluarga pedagang sederhana di Frankfurt, Jerman. Sebagian anggota keluarganya juga berprofesi sebagai rabi. Sebagai anak laki-laki tertua, Mayer awalnya dipersiapkan untuk menempuh jalan teologi dan mengabdikan hidupnya pada agama.
Namun, takdir mengubah arah hidupnya sejak dini. Kedua orang tuanya meninggal dunia ketika Mayer baru berusia 11 tahun. Kehilangan itu memaksanya meninggalkan rencana pendidikan keagamaan dan terjun ke dunia kerja lebih awal. Mayer kemudian dikirim ke Hanover untuk magang di sebuah bank—langkah yang kelak menentukan masa depannya.
Selama beberapa tahun, Mayer bekerja sambil mempelajari seluk-beluk keuangan dan menabung modal. Pada 1770, ia kembali ke Frankfurt, menikah, dan memulai usaha sendiri. Awalnya, Mayer berdagang koin kuno, benda antik, serta karya seni—komoditas yang kala itu diminati kalangan bangsawan Eropa. Seiring bertambahnya modal dan jaringan, fokus usahanya pun bergeser ke sektor finansial.
Dalam waktu relatif singkat, Mayer berhasil menempatkan diri sebagai bankir sekaligus administrator keuangan Landgraviate Hesse-Cassel di bawah penguasa Wilhelm I, yang kelak bergelar Wilhelm IX. Dari posisi strategis ini, Mayer memperoleh pemahaman mendalam tentang pengelolaan kekayaan skala besar—baik untuk kepentingan sang penguasa maupun untuk memperluas aset pribadinya.
Perang Napoleon menjadi momentum penting bagi keduanya. Wilhelm I menyewakan pasukan militernya kepada Inggris dan Prusia, sementara Mayer berperan sebagai penyedia dana bagi pemerintah-pemerintah Eropa yang terlibat konflik. Skema pembiayaan perang ini mendatangkan keuntungan besar dan memperkuat posisi Mayer di dunia perbankan internasional.
“[Keluarga Rothschild] adalah salah satu pendana utama selama Perang Napoleon. Mereka membiayai pasukan Inggris dan koalisi melawan Napoleon, memberikan pinjaman, menjual emas, dan meraih keuntungan dari situ,” ujar jurnalis Amerika Serikat, Mike Rothschild, kepada BBC News Mundo.
Dari titik inilah, fondasi kekuatan finansial keluarga Rothschild mulai terbentuk—sebuah pengaruh yang jejaknya masih terasa hingga hari ini.
Meski memiliki nama belakang yang sama, Mike Rothschild tidak memiliki hubungan darah apa pun dengan dinasti perbankan tersebut. Ia dikenal sebagai jurnalis dan penulis yang selama bertahun-tahun meneliti serta membongkar mitos-mitos berusia dua abad yang kerap melekat pada keluarga Rothschild.
Menurut Mike Rothschild, perang pada dasarnya adalah mesin yang menggerakkan kebutuhan dana dalam skala besar dan waktu singkat. “Perang membutuhkan banyak hal dan biayanya sangat mahal. Mereka [keluarga Rothschild] bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu yang sangat cepat,” ujarnya. Ia menegaskan, keuntungan keluarga ini lebih banyak berasal dari kemampuan logistik dan keuangan, bukan dari kendali rahasia atas politik global sebagaimana kerap dituduhkan dalam teori konspirasi.
Catatan sejarah lain memperkuat peran praktis Rothschild dalam pembiayaan perang. Dalam buku The Rothschilds: The Financial Rulers of Nations yang diterbitkan pada 1887, penulis John Reeves menggambarkan situasi keuangan Inggris selama Perang Semenanjung di Spanyol dan Portugal (1808–1814). Saat itu, Duke of Wellington menghadapi kesulitan serius dalam menjaga kelancaran arus kas pasukannya. Tidak ada bankir yang bersedia menanggung risiko dan tanggung jawab besar untuk mentransfer dana lintas wilayah konflik.
Di tengah kebuntuan tersebut, keluarga Rothschild menawarkan diri untuk mengelola pengiriman dana dengan imbalan komisi yang tinggi. Selama kurang lebih delapan tahun, mereka menjalankan layanan keuangan ini—sebuah bisnis berisiko tinggi namun sangat menguntungkan.
Keberhasilan itu menjadi titik balik. Berbekal pengalaman dan jaringan yang telah teruji, pemerintah Inggris kemudian mempercayakan keluarga Rothschild untuk mengelola pengiriman dana ke berbagai pangeran dan sekutu di benua Eropa. Dari sinilah, posisi Rothschild sebagai penghubung keuangan antarnegara kian menguat, sekaligus memperluas pengaruh mereka di panggung internasional.
Membangun dinasti

Seiring menguatnya posisi keluarga Rothschild di jantung keuangan Eropa, berbagai mitos dan teori konspirasi pun ikut tumbuh. Salah satu yang paling sering diulang adalah anggapan bahwa keluarga ini secara sistematis dan terencana membangun jaringan cabang perbankan di ibu kota-ibu kota utama Eropa untuk mengendalikan benua tersebut.
Faktanya, meski kelima putra Mayer Amschel Rothschild memang menjalankan bisnis keluarga di kota berbeda—Frankfurt, London, Paris, Wina, dan Naples—ekspansi itu tidak terjadi secara serempak. Cabang London yang dipimpin Nathan Rothschild dibuka pada 1804, sementara kantor di Wina dan Naples baru berdiri lebih dari 15 tahun kemudian, bahkan setelah Mayer Amschel wafat pada 1812. Artinya, jaringan Rothschild berkembang secara bertahap, mengikuti peluang politik dan ekonomi, bukan melalui satu rencana besar yang terpusat.
Salah satu mitos paling terkenal melekat pada Nathan Rothschild. Pada 1846, sebuah pamflet anonim beredar luas di Eropa, menuduh Nathan memanfaatkan informasi rahasia tentang kekalahan Napoleon di Pertempuran Waterloo untuk meraup keuntungan besar di pasar saham London. Dalam kisah itu, Nathan digambarkan menyeberangi Selat Inggris di tengah badai demi mendahului kabar resmi perang.
Namun, klaim tersebut belakangan terbukti keliru. Investigasi jurnalis Brian Cathcart yang diterbitkan The Independent pada 2015 menunjukkan bahwa Nathan Rothschild tidak berada di Waterloo, tidak melakukan transaksi saham luar biasa pada saat itu, dan kisah badai besar di Selat Inggris hanyalah karangan. Meski demikian, cerita ini telanjur menyebar luas, bahkan sempat dimuat dalam Encyclopedia Britannica edisi 1910—menunjukkan bagaimana mitos bisa bertahan jauh lebih lama daripada fakta.
Keluarga Rothschild memang memperoleh kekayaan besar selama Perang Napoleon, tetapi bukan lewat manipulasi rahasia pasar. Keuntungan mereka berasal dari pembiayaan perang yang sah: memberikan pinjaman, mengelola transfer dana lintas negara, dan menjual emas kepada pemerintah serta tentara koalisi anti-Prancis.
Mitos lain yang kerap muncul adalah tudingan bahwa Rothschild membiayai kedua pihak yang saling berperang. Jurnalis Amerika Serikat, Mike Rothschild—yang tidak memiliki hubungan darah dengan dinasti tersebut—menyebut klaim ini tidak didukung bukti sejarah. Menurutnya, keberadaan cabang Rothschild di negara-negara yang berseberangan justru menciptakan hubungan bisnis yang rumit, bukan praktik pembiayaan ganda. Dalam Perang Napoleon, misalnya, keluarga ini secara konsisten mendukung musuh Prancis hingga konflik berakhir.
Ketika Mayer Amschel Rothschild meninggal dunia, bisnis keluarga telah dilembagakan dalam perusahaan Mayer Amschel Rothschild and Sons. Kekayaan dibagi rata kepada kelima putranya, disertai pesan agar mereka tetap bersatu dan tidak menyia-nyiakan warisan tersebut. Prinsip itu terbukti efektif. Selama hampir satu abad, dari 1815 hingga 1914, Rothschild dikenal sebagai pemilik “bank terbesar di dunia”—meski bukan bank ritel, melainkan bank investasi yang berfokus pada pinjaman pemerintah dan obligasi negara.
Pada paruh pertama abad ke-19, keluarga Rothschild menjadi aktor utama dalam pembentukan pasar obligasi internasional. Mereka menjadi penasihat dan pemberi pinjaman bagi bangsawan Eropa, Vatikan, hingga Raja George IV Inggris. Nathan Rothschild sendiri diyakini sebagai orang terkaya di dunia saat wafat pada 1836.
Seiring kekayaan bertambah, status sosial keluarga ini pun naik. Para putra Mayer Amschel diangkat menjadi baron Kekaisaran Austria. Lionel Nathan de Rothschild mencatat sejarah sebagai orang Yahudi pertama yang duduk di Parlemen Inggris, sementara putranya, Nathaniel Mayer de Rothschild, menjadi orang Yahudi pertama yang masuk House of Lords.
Namun, menjelang akhir abad ke-19, dominasi Rothschild mulai memudar akibat persaingan bank-bank besar Eropa dan Amerika. Meski tetap kaya dan berpengaruh, mereka tidak lagi memegang kendali utama sektor perbankan internasional.
Di luar keuangan, nama Rothschild juga melekat pada sejarah Zionisme dan pembentukan Negara Israel. Edmond James de Rothschild mengalokasikan dana besar untuk pembelian tanah di Palestina pada akhir abad ke-19, membiayai koloni Yahudi, serta pembangunan pertanian dan industri. Lionel Walter Rothschild menjadi penerima Deklarasi Balfour 1917—dokumen kunci dukungan Inggris bagi pendirian tanah air Yahudi di Palestina.
Meski begitu, tidak semua anggota keluarga Rothschild sepakat dengan proyek Zionis. Perbedaan pandangan ini kerap luput dari narasi konspiratif yang menyederhanakan mereka sebagai satu entitas tunggal.
Setelah Perang Dunia I, pengaruh global Rothschild terus menurun. Namun, hingga kini, nama mereka tetap menjadi magnet teori konspirasi. Menurut Mike Rothschild, hal ini tak lepas dari sejarah panjang anti-Semitisme di Barat. “Teori konspirasi hampir selalu memiliki unsur tentang siapa yang mengendalikan dan mendanai segalanya. Dan ketika orang mencari sosok Yahudi yang terkenal dan kaya, nama Rothschild sering muncul,” ujarnya.
Di titik inilah, sejarah dan mitos terus bertabrakan—membuat keluarga Rothschild tetap hidup dalam imajinasi publik, jauh melampaui kekuatan nyata yang mereka miliki hari ini.

Namun, cerita ini terbukti bohong.
Pada tahun 2015, wartawan Brian Cathcart dalam investigasi yang diterbitkan The Independent, menulis bahwa Nathan Rothschild kala itu tidak ada di Waterloo (ataupun di Belgia bagian mana pun). Nathan juga tidak mendulang untung besar dari pasar saham saat itu. Pun badai besar di Selat Inggris juga merupakan isapan jempol belaka.
Kisah ini telah beredar selama berpuluh-puluh tahun dan bahkan pernah masuk ke dalam publikasi ternama seperti Encyclopedia Britannica, dalam salah satu edisinya pada tahun 1910.
Keluarga Rothschild memang mengumpulkan kekayaan besar berkat Perang Napoleon, tetapi – seperti yang sebelumnya disebutkan – semua itu berkat pembiayaan yang ditawarkan kepada pemerintah dan tentara.
Mitos lain yang kerap dilekatkan pada keluarga Rothschild adalah tudingan bahwa mereka memperkaya diri dengan membiayai kedua pihak yang saling berperang. Klaim ini berulang kali muncul dalam berbagai teori konspirasi, namun tidak pernah didukung bukti sejarah yang kuat.
Jurnalis Amerika Serikat, Mike Rothschild, menegaskan bahwa anggapan tersebut keliru. Dalam penjelasannya kepada BBC Mundo, ia mengatakan bahwa keberadaan kantor Rothschild di negara-negara yang saling berkonflik kerap disalahartikan sebagai praktik pembiayaan ganda. “Secara historis, terdapat berbagai konflik antara dua negara yang saling berperang dan keberadaan keluarga Rothschild signifikan di masing-masing negara. Misalnya pada Perang Napoleon, ketika ada kantor Rothschild di Paris dan di London. Situasinya sangat rumit dan berkelindan,” ujarnya.
Namun, kerumitan jaringan lintas negara itu tidak berarti keluarga Rothschild mendanai kedua belah pihak. “Tidak ada bukti bahwa mereka pernah melakukan itu. Bahkan, pada kenyataannya, mereka terus-menerus membiayai musuh Prancis hingga akhir Perang Napoleon,” tambah Mike Rothschild.
Pada masa yang sama, fondasi bisnis keluarga terus diperkuat. Ketika Mayer Amschel Rothschild wafat, ia telah membentuk perusahaan keluarga bernama Mayer Amschel Rothschild and Sons. Kekayaan perusahaan tersebut dibagi secara merata kepada kelima putranya, dengan satu pesan utama dari sang pendiri: agar mereka tidak menyia-nyiakan warisan yang telah dibangun dan tetap bersatu, apa pun tantangan yang menghadang.
Pesan inilah yang kemudian menjadi perekat utama dinasti Rothschild, sekaligus kunci keberlanjutan pengaruh mereka di dunia keuangan internasional selama beberapa generasi berikutnya.
Dari imigran menjadi ‘lord’

Unit keluarga Rothschild tetap dipertahankan dengan disiplin tinggi. Selama hampir satu abad, dari 1815 hingga 1914, dinasti ini menguasai apa yang oleh sejarawan Inggris Niall Ferguson disebut sebagai “bank terbesar di dunia”. Istilah tersebut tidak merujuk pada ukuran fisik atau jumlah nasabah, melainkan pada skala pengaruh dan jangkauan keuangan yang mereka miliki.
Berbeda dari bank konvensional, bank Rothschild bukanlah tempat masyarakat umum menyimpan tabungan atau mengajukan pinjaman. Bisnis utama mereka adalah perbankan investasi, dengan fokus pada pinjaman pemerintah dan transaksi obligasi negara—sektor yang pada abad ke-19 menjadi tulang punggung pembiayaan negara-negara Eropa.
Pada dekade 1820-an, keluarga Rothschild berada di puncak kekuasaan finansialnya. Mereka memainkan peran krusial dalam membentuk apa yang kemudian berkembang menjadi pasar obligasi internasional. Dalam bukunya Jewish Space Lasers: The Rothschilds and 200 Years of Conspiracy Theories, Mike Rothschild menulis bahwa keluarga ini menjadi aktor sentral dalam arsitektur keuangan Eropa modern.
“Mereka adalah penasihat dan pemberi pinjaman bagi bangsawan Eropa, Vatikan, para perdana menteri, hingga Raja George IV,” tulis Mike Rothschild. Selain itu, keluarga ini juga bertindak sebagai bankir bagi Aliansi Suci—perjanjian antara Rusia, Prusia, dan Austria yang dibentuk untuk menahan kebangkitan militerisme Prancis pasca-Napoleon.
Puncak kekayaan pribadi dinasti ini tercermin pada sosok Nathan Rothschild. Saat ia meninggal dunia pada 1836, Nathan diyakini sebagai orang terkaya di dunia—simbol dari era ketika nama Rothschild identik dengan kekuasaan finansial global.
Seiring bertambahnya kekayaan dan pengaruh keluarga Rothschild, pengakuan publik terhadap mereka pun kian menguat. Dinasti yang bermula dari perkampungan Yahudi di Frankfurt itu perlahan menembus lingkaran elit Eropa. Kelima putra Mayer Amschel Rothschild dianugerahi gelar baron oleh Kekaisaran Austria, sementara generasi berikutnya berhasil berintegrasi ke dalam lapisan tertinggi masyarakat politik dan ekonomi.
Salah satu tonggak penting dicatat Lionel Nathan de Rothschild (1808–1879), yang mencetak sejarah sebagai orang Yahudi pertama yang duduk di Parlemen Inggris. Kehadirannya menandai perubahan besar dalam penerimaan sosial dan politik komunitas Yahudi di Inggris pada abad ke-19.
Di bidang keuangan negara, peran Rothschild kembali terlihat pada 1875. Nathan Rothschild memberikan pinjaman sebesar £4 juta—jumlah yang setara dengan sekitar Rp79,87 miliar pada kurs Maret 2024—yang memungkinkan pemerintah Inggris membeli saham di Terusan Suez. Langkah strategis ini memperkuat posisi Inggris di jalur perdagangan global yang vital.
Pengaruh serupa juga terlihat di Prancis. Mayer Alphonse de Rothschild (1827–1905), dari cabang keluarga Prancis, memimpin aliansi perbankan yang mengatur dua pinjaman besar bagi pemerintah Prancis pasca-kekalahan dalam Perang Prancis–Prusia pada awal 1870-an. Dana tersebut digunakan untuk membayar reparasi perang kepada Jerman, sebuah langkah krusial yang mempercepat penarikan pasukan asing dari wilayah Prancis.
Keberhasilan membiayai reparasi itu turut menjamin stabilitas politik domestik dan memperkokoh pemerintahan Presiden Adolphe Thiers—sekali lagi menegaskan peran Rothschild di persimpangan antara keuangan dan kekuasaan negara.

Nathaniel Mayer (Natty) de Rothschild (1840–1915), putra Lionel Nathan de Rothschild, kembali mencatat sejarah. Ia menjadi orang Yahudi pertama yang memasuki House of Lords Inggris, sekaligus menyandang gelar Lord Rothschild pertama—sebuah simbol kuat keberhasilan keluarga ini menembus puncak aristokrasi Inggris.
Sepanjang abad ke-19, bisnis keluarga Rothschild tidak hanya bertumpu pada perbankan dan perdagangan obligasi pemerintah. Dinasti ini secara aktif melakukan diversifikasi, memperluas investasinya ke berbagai sektor strategis. Mereka menanamkan modal di perusahaan asuransi serta membeli saham di industri-industri besar, termasuk metalurgi, pertambangan, dan jaringan kereta api yang tengah berkembang pesat seiring Revolusi Industri.
Di saat yang sama, keluarga Rothschild juga terlibat dalam pembiayaan ekspansi kolonial Eropa di Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Keterlibatan ini menempatkan mereka dalam pusaran proyek kolonial yang sarat kontroversi. “Mereka juga terlibat atau, setidaknya, bersikap ambivalen terhadap banyak pelanggaran kemanusiaan yang dialami masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut,” tulis Mike Rothschild dalam bukunya.
Meski bisnis perbankan Rothschild terus tumbuh sepanjang abad ke-19, lanskap keuangan global mulai berubah menjelang akhir abad itu. Munculnya kelompok-kelompok perbankan besar dari Eropa dan Amerika Serikat secara bertahap menggerus posisi dominan Rothschild, menandai berakhirnya era ketika satu keluarga dapat mendominasi sistem keuangan internasional.
Zionisme dan Israel

Secara tradisi, kepala keluarga Rothschild di Inggris Raya kerap dipandang sebagai salah satu perwakilan utama komunitas Yahudi di negara tersebut. Posisi simbolik ini turut menempatkan keluarga Rothschild dalam berbagai isu besar yang menyangkut identitas, politik, dan masa depan orang Yahudi di Eropa.
Dalam konteks itulah, keluarga Rothschild memainkan peran penting dalam proses yang mengarah pada pembentukan Negara Israel. Salah satu figur sentralnya adalah Edmond James de Rothschild (1845–1934), cucu Mayer Amschel Rothschild sekaligus putra bungsu James de Rothschild dari cabang keluarga Prancis.
Edmond dikenal sebagai salah satu promotor utama Zionisme—gagasan tentang pendirian tanah air bagi orang-orang Yahudi. Dorongan tersebut muncul di tengah meningkatnya gelombang anti-Semitisme dan ancaman terhadap komunitas Yahudi di Eropa pada akhir abad ke-19. Menyikapi situasi itu, Edmond mengerahkan sumber daya finansial yang sangat besar untuk membeli tanah di Palestina, wilayah yang pada masa itu masih berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman.
Langkah tersebut menjadi fondasi awal bagi pendirian koloni-koloni Yahudi, sekaligus menandai keterlibatan konkret keluarga Rothschild dalam salah satu proyek politik dan sejarah paling menentukan abad ke-20.
Edmond James de Rothschild tidak hanya mendukung Zionisme secara ideologis, tetapi juga secara konkret melalui pendanaan langsung. Ia membiayai pendirian koloni-koloni Yahudi serta pengembangan sektor pertanian dan industri di Palestina. Ketika Edmond wafat pada 1934, jejak warisannya tercermin dalam kepemilikan tanah seluas sekitar 500 kilometer persegi dan hampir 30 permukiman—fondasi material yang kelak berperan penting dalam pembentukan negara baru.
Penghormatan terhadap peran Edmond terlihat dua dekade setelah kematiannya. Meski awalnya dimakamkan di Paris, jenazah Edmond dan istrinya, Adleheid, dipindahkan ke Israel pada 1954. Keduanya dimakamkan dalam sebuah upacara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Israel saat itu, David Ben-Gurion—sebuah pengakuan simbolik atas kontribusi mereka dalam sejarah negara tersebut.
Peran keluarga Rothschild dalam pembentukan Israel juga tercermin pada sosok Lionel Walter Rothschild (1868–1937), yang dikenal sebagai Lord Rothschild kedua. Lionel menjadi figur kunci dalam salah satu momen paling menentukan abad ke-20: Deklarasi Balfour.
Pada 1917, Lionel Walter Rothschild menerima Deklarasi Balfour—dokumen resmi yang ditandatangani pemerintah Inggris dan menyatakan dukungannya terhadap pendirian “rumah nasional bagi orang-orang Yahudi” di Palestina. Surat tersebut kelak menjadi salah satu dasar politik utama bagi berdirinya Negara Israel, sekaligus menempatkan nama Rothschild secara permanen dalam sejarah Timur Tengah modern.

Peran keluarga Rothschild dalam lahirnya Deklarasi Balfour juga terungkap dalam sebuah wawancara pada 2017 dengan mendiang Jacob Rothschild, Lord Rothschild keempat. Menurut Jacob, dokumen bersejarah tersebut tidak lahir secara instan. Setidaknya lima draf disusun dan direvisi sebelum Deklarasi Balfour akhirnya disepakati oleh pemerintah Inggris.
Dalam proses itu, sepupu perempuan Jacob, Dorothy de Rothschild, memainkan peran penting yang kerap luput dari sorotan. Pada usia yang masih sangat muda, Dorothy menjadi penghubung antara ilmuwan Chaim Weizmann—salah satu tokoh utama gerakan Zionisme yang kelak menjabat sebagai presiden pertama Israel—dengan lingkaran elite politik Inggris.
Jejaring personal inilah yang membantu membuka akses Zionis ke pusat kekuasaan Inggris pada masa Perang Dunia I. Bagi keluarga Rothschild, Deklarasi Balfour bukan sekadar dokumen politik, melainkan momen historis yang sarat makna emosional.
“Itu adalah peristiwa terbesar dalam kehidupan orang Yahudi selama ribuan tahun—sebuah keajaiban. Butuh 3.000 tahun untuk mencapainya,” ujar Jacob Rothschild, mengenang arti Deklarasi Balfour bagi sejarah bangsanya.
Peran Dorothy de Rothschild tidak berhenti pada proses lahirnya Deklarasi Balfour. Ia juga mendirikan Yad Hanadiv, sebuah yayasan filantropis yang hingga kini menjadi salah satu aktor utama dalam pembangunan institusi-institusi negara Israel. Melalui yayasan ini, keluarga Rothschild membiayai pembangunan gedung Knesset (Parlemen Israel), Mahkamah Agung, serta proyek terbarunya, Perpustakaan Nasional Israel.
Dalam beberapa dekade terakhir, Yad Hanadiv dipimpin oleh mendiang Jacob de Rothschild. Di bawah kepemimpinannya, yayasan tersebut memperluas fokusnya tidak hanya pada pembangunan institusional, tetapi juga pada pendidikan, lingkungan hidup, serta promosi kesetaraan kesempatan bagi minoritas Arab di Israel.
“Keluarga Rothschild masih sangat dihormati di Israel. Mereka adalah figur yang sangat penting. Mereka dianggap sebagai salah satu pemodal utama gerakan Zionis,” ujar Mike Rothschild kepada BBC Mundo.
Namun, Mike menekankan bahwa pandangan politik di dalam keluarga Rothschild tidak pernah sepenuhnya seragam.
“Beberapa keluarga Rothschild sangat berdedikasi pada pendirian Negara Israel, tapi sebagian lainnya justru sangat menentangnya,” katanya.
Memasuki periode pasca Perang Dunia I, kekuasaan ekonomi dan pengaruh politik keluarga Rothschild mulai mengalami penurunan. Mereka tetap menjadi keluarga yang kaya dan berpengaruh, tetapi tidak lagi mendominasi dunia keuangan global seperti pada abad ke-19.
Meski demikian, nama Rothschild justru semakin hidup dalam berbagai mitos dan teori konspirasi. Mengapa demikian?
“Keluarga Rothschild terus menarik minat publik karena mereka masih menjadi salah satu keluarga Yahudi paling terkenal di Barat. Teori konspirasi dan anti-Semitisme sering kali berjalan beriringan,” jelas Mike Rothschild.
Menurutnya, teori konspirasi hampir selalu mengandung unsur anti-Semitisme, terutama dalam narasi tentang siapa yang dianggap mengendalikan atau membiayai kekuatan global tersembunyi.
“Banyak penganut teori konspirasi cenderung percaya bahwa orang Yahudi berada di baliknya. Dan ketika berbicara tentang orang Yahudi, sangat mudah bagi mereka untuk menunjuk sosok yang paling terkenal dan paling kaya,” pungkasnya.


